KURUNGAN YANG TIDAK MENGAJARKAN JIWA

Warta Tako
0
Images ilustrasi yang penuh makna Ndugwi Wapunuk Junduk  Jugwi inok Aap Ndarak Kongon Piang-piang, jaruk-jaruk dalam perjalanan saling mengikat tali persaudaraan 

GUNUNG, 18 Februari 2026 / bagian refleksi penulis mengajakmu membangun pemahaman antara orang--orang yang berpihak berhati besar. Saat itu aku berada dalam kurungan. Bukan hanya tubuh yang terkungkung oleh dinding dan jeruji, tetapi juga pikiranku. Kepala terasa kosong, seperti tanah kering yang lama tak disentuh hujan. Aku duduk, menatap lantai, mendengar detak waktu berjalan pelan namun berat. Tidak ada rencana, tidak ada bayangan masa depan. Yang ada hanya sesak, takut, dan pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban: sampai kapan semua ini berakhir?


Di ruang sempit itu, manusia sering kehilangan dirinya sendiri. Aku pun begitu. Terkadang aku lupa bahwa aku masih manusia, masih punya nama, masih punya cerita. Aku merasa kecil, tak berdaya, seolah seumur hidup berhenti di titik itu. Pikiran melayang ke mana-mana, lalu jatuh lagi ke satu lubang gelap yang sama. Aku tidak bisa berpikir jernih. Bahkan untuk berdoa pun, kata-kata terasa tercekat di dada.


Namun di tengah kekosongan itu, ada satu suara yang terus hidup dalam ingatanku. Suara kakanda almarhum Deerd Tabuni, SE., M.Si. Kata-kata terakhirnya terngiang jelas, seperti bisikan yang tak pernah pergi. Ia pernah berkata kepadaku dengan nada tenang, namun penuh makna: “Nagor Kogoba Ala Kimbirak, Wene Ndugure Aret Mee, Aap Wee Wagarak.”


Saat pertama kali kata-kata itu terlintas kembali di kepalaku, aku belum sepenuhnya mengerti. Namun aku merasakannya. Ada kekuatan di sana. Ada pegangannya. Seolah-olah kakanda ingin mengatakan bahwa hidup, sekeras apa pun keadaannya, harus tetap dikendalikan dengan aman. Bahwa hati dan pikiran adalah anugerah, bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga.


Hari-hari di kurungan berjalan lambat. Pagi dan malam terasa sama. Tetapi setiap kali rasa putus asa datang, aku mengulangi kalimat itu dalam hati. Pelan-pelan, seperti anak kecil yang belajar berjalan. Kata demi kata. Aku mulai memaknainya sebagai penguatan: bahwa apa pun yang terjadi, manusia harus belajar menguasai dirinya sendiri. Bukan keadaan yang memimpin hidup kita, melainkan hati dan pikiran yang kita rawat.


Aku mulai belajar bernapas lebih tenang. Belajar diam tanpa marah. Belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa langsung dipahami. Di situ aku sadar, kurungan ini memang membatasi gerak tubuhku, tapi tidak harus membunuh jiwaku. Aku masih bisa memilih: tenggelam dalam keputusasaan, atau bertahan dengan kesadaran.


Kata-kata kakanda menjadi semacam pelita kecil. Tidak terang benderang, tetapi cukup untuk melihat satu langkah ke depan. Aku teringat wajahnya, cara bicaranya yang selalu tenang, seolah ia tahu bahwa suatu hari kata-kata itu akan menjadi bekal di saat paling gelap. Ia tidak sekedar memberi nasihat, tetapi menanamkan keyakinan bahwa manusia diberi akal dan hati nurani untuk menjaga dirinya sendiri.


Waktu terus berjalan. Lukanya belum pulih sepenuhnya, tapi pikiranku mulai lebih tertata. Aku mulai berdamai dengan kesunyian. Di balik dinding yang dingin itu, aku belajar mengenali diriku sendiri. Aku belajar bahwa hidup tidak selalu tentang bergerak cepat, tetapi tentang bertahan dengan keadaan. Tentang tidak kehilangan arah meski jalan terasa buntu.


Kini, setelah semua itu menjadi kenangan, aku masih mengingat kata-kata kakanda dengan utuh. Ia hidup dalam ingatanku, dalam setiap langkah kecil yang kuambil untuk tetap waras dan manusiawi. Aku percaya, hari tua nanti, kata-kata itu akan kembali menemuiku, mungkin dengan makna yang lebih dalam lagi. Saat rambut mulai memutih dan langkah semakin pelan, aku akan tersenyum dan berkata dalam hati: aku pernah jatuh, tetapi aku tidak menyerah.


Suatu hari, saya ingin menulis semua ini dalam sebuah buku. Bukan untuk mengagungkan penderitaan, tetapi untuk menceritakan perjalanan seorang manusia yang belajar mengendalikan dirinya di tengah badai. Buku tentang kurungan, tentang harapan, tentang pesan sederhana yang menyelamatkan akal dan hati. Buku yang lahir dari luka, tetapi ditulis dengan kesadaran.


Karena hidup, pada akhirnya, adalah perjalanan yang mengingat. Mengingat siapa kita, dari mana kita datang, dan nilai apa yang ingin kita tinggalkan. Dan di antara semua ingatan itu, kata-kata kakanda almarhum akan selalu mempunyai tempat khusus: sebagai penguat, sebagai penuntun, dan sebagai saksi bahwa manusia bisa tetap berdiri, bahkan ketika dunia mencoba menjatuhkannya. Cerita ini ditulis dan disempurnakan 


Oleh Wakangger  



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

Advertisement