![]() |
| Gambar Situasi Pengungsi |
PAPUA, Di bawah kaki Gunung Memangkawi, ketika kabut turun perlahan menutupi lereng-lereng hijau dan udara dingin melewati alam dengan tenang, seorang anak muda bernama Arel X memilih berjalan menjauh dari keramaian dunia. Langkahnya pelan, menelusuri tanah basah yang menyimpan jejak-jejak kehidupan lama. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk pikuk kota, tidak ada notifikasi yang memanggil perhatian. Yang terdengar hanyalah desiran angin, pemandangan indah pepohonan, dan bisikan alam yang begitu jujur. Banyak orang mungkin akan berkata bahwa Arel X sedang “kabur.” Kata itu sering dipahami sebagai bentuk kelemahan seolah seseorang sedang melarikan diri dari kenyataan, takut menghadapi hidup, atau menyerah pada keadaan. Namun tidak semua bentuk yang hilang adalah pengungsi. Terkadang, seseorang perlu pergi sejenak agar melihat hidupnya dengan lebih jelas. Kadang-kadang, langkah menjauh justru adalah cara paling berani untuk kembali menemukan arah. Di zaman sekarang, hidup bergerak terlalu cepat. Dunia seolah menuntut semua orang untuk terus berlari mengejar pencapaian, pengakuan, popularitas dan eksistensi yang terkadang hanya bertahan beberapa detik di layar media sosial. Banyak orang yang sibuk terlihat bahagia, sibuk menunjukkan kesuksesan, sibuk menjadi sesuatu yang diharapkan orang lain. Tetapi dibalik semua itu, banyak hati yang lelah, pikiran yang penuh sesak dan jiwa yang diam-diam kehilangan rumahnya. Mungkin itulah yang dirasakan Arel X. Di tengah riuh dunia modern, ia memilih kembali ke kaki gunung. Bukan untuk menghilang, melainkan untuk mendengar kembali suara dirinya sendiri yang selama ini tertutup oleh gangguan luar. Sebab sering kali, semakin ramai dunia berbicara, semakin sulit seseorang mendengar isi hatinya sendiri. Gunung Memangkawi bukan sekedar bentangan alam. Ia adalah Saksi bisu perjalanan manusia Papua sejak lama. Gunung bagi masyarakat Papua bukan sekedar tanah yang menjulang tinggi, melainkan ruang hidup, ruang spiritual, ruang perjumpaan antara manusia dan penciptanya. Di sana, sunyi bukanlah kehampaan. Sunyi adalah bahasa alam. Dalam diamnya gunung, seseorang belajar mendengar yang selama ini tak terdengar. Ketika Arel X berjalan di bawah kaki gunung itu, meninggalkan jejak di antara kabut, sesungguhnya ia sedang menulis percakapan batin dengan dirinya sendiri. Setiap langkah adalah pertanyaan. Setiap hembusan napas adalah renungan. Setiap kabut yang menutupi pandangan mengajarkan satu hal penting tidak semua jalan harus terlihat jelas agar bisa dilalui. Kabut adalah bagian dari perjalanan. Ia menutup pandangan bukan untuk penghibur, tetapi untuk mengajarkan kepercayaan. Dalam hidup, kita sering ingin mengetahui semuanya dengan pasti tentang masa depan, tentang jawaban hidup, tentang arah yang harus dipilih. Kita takut berjalan jika jalan di depan belum terlihat terang. Namun alam mengajarkan bahwa terkadang kita hanya perlu melihat satu langkah di depan, lalu melangkah dengan percaya. Arel X mungkin tidak sedang mencari jawaban besar. Ia mungkin hanya sedang mencari tenang. Dan sering kali, ketenangan adalah jawaban yang paling dibutuhkan manusia modern. Sebab dari pikiran yang tenang lahirlah kejernihan. Dari hati yang terpendam lahirlah keberanian untuk memilih hidup dengan jujur. Perjalanan ke gunung juga mengajarkan kerendahan hati. Di hadapan tingginya lereng dan luasnya langit Papua, manusia sadar betapa kecilnya dirinya. Semua ambisi, kegelisahan, dan kesombongan dunia terasa begitu rapuh ketika berdiri di hadapan alam. Gunung tidak peduli siapa yang datang entah orang terkenal atau biasa, kaya atau miskin, berhasil atau gagal. Di hadapan gunung, semua kembali menjadi manusia yang sedang belajar mengenal dirinya sendiri. Di situlah mungkin Arel X menemukan makna pulang. Pulang bukan selalu tentang kembali ke rumah secara fisik. Pulang adalah keadaan ketika kembali jiwa berdamai dengan dirinya sendiri. Pulang adalah saat seseorang berhenti berpura-pura dan menerima hidupnya apa adanya. Pulang adalah ketika hati tidak lagi sibuk mencari pengakuan dari luar, karena ia telah menemukan cukup dalam dirinya. Banyak orang pergi jauh untuk mencari sesuatu, tetapi tidak semua menemukan apa yang dicari. Sebab yang paling sulit ditemukan sering kali bukan tempat, melainkan diri sendiri. Dan untuk menemukan jati diri, seseorang harus berani masuk ke dalam keheningan. Di bawah kaki Gunung Memangkawi, Arel X sedang belajar bahwa hidup tidak harus selalu gaduh untuk bermakna. Tidak semua perjalanan harus diperhatikan untuk menjadi penting. Tidak semua langkah harus dipahami orang lain untuk menjadi benar. Terkadang perjalanan terbaik adalah perjalanan yang hanya dipahami oleh hati sendiri. Ketika nanti ia kembali dari gunung itu, mungkin tidak ada yang berubah secara kasat mata. Dunia tetap sibuk. Orang-orang tetap berlari mengejar urusannya masing-masing. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda ia telah menemukan arahnya pula.
Warta Tako
