Di Balik Lampu Merah Sebuah Perjuangan Menyukseskan Seminar Natal dan Tahun Baru IPMAP se-Jawa Bali 2022/2023

Warta Tako
0


Dokumen Penggalangan dana lampu merah Jl Kaliurang tahun 2022

YOGYAKARTAKetika kita berbicara tentang keberhasilan sebuah kegiatan dalam organisasi, kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya. 


Mereka melihat panggung yang berdiri megah, ruangan yang penuh peserta, susunan acara yang berjalan rapi, pembicara yang hadir, tepuk tangan yang meriah, dan foto-foto yang tersebar di media sosial sebagai bukti bahwa semuanya sukses.


Namun sangat sedikit yang benar-benar tahu cerita di balik semua itu.


Tidak semua orang tahu bagaimana perjuangan panjang yang harus dilalui untuk sampai pada titik keberhasilan itu. Tidak semua orang melihat bagaimana lelahnya mengatur segala sesuatu dari nol, bagaimana sulitnya mengumpulkan dana, bagaimana menahan rasa malu, melawan rasa takut, dan bertahan dalam keterbatasan.


Begitulah pengalaman yang saya alami ketika bersama teman-teman berjuang menyukseskan Seminar Natal dan Tahun Baru IPMAP se-Jawa Bali 2022/2023.


Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin hanya agenda tahunan organisasi biasa. Tetapi bagi kami, kegiatan itu jauh lebih besar daripada sekadar acara seremonial. Itu adalah simbol kebersamaan anak-anak Papua di tanah rantau. Itu adalah ruang untuk menjaga persaudaraan, memperkuat iman, membangun semangat intelektual, dan membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, kami tetap mampu berdiri dan berkarya.


Menyukseskan kegiatan seperti itu membutuhkan lebih dari sekadar ide dan proposal.


Ia membutuhkan kerja keras yang nyata.

Ia membutuhkan pengorbanan.

Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia berjalan lebih jauh ketika yang lain mulai lelah.

Saya masih mengingat satu momen yang sampai hari ini tetap hidup dalam ingatan saya.

Waktu itu kami sedang berusaha keras mengumpulkan dana untuk kegiatan seminar Natal dan Tahun Baru. Harapan kami besar. Semangat kami tinggi. Kami percaya kegiatan ini harus berhasil.


Tetapi kenyataan tidak selalu berjalan seindah harapan.

Dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Waktu semakin sempit. Kebutuhan semakin mendesak.

Sementara kondisi kami di tanah rantau sangat terbatas.

Suatu hari saya berada di tempat tinggal—sebuah kontrakan sederhana yang menjadi saksi hidup perjuangan anak-anak rantau. Saat itu tidak ada seorang pun di sana. Semua teman sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kuliah, ada yang kerja sambilan, ada yang sedang keluar mengurus hal lain.


Kontrakan itu terasa sunyi.

Saya duduk sendiri, memikirkan keadaan.

Kegiatan sudah semakin dekat. Kebutuhan harus segera dipenuhi. Tidak mungkin hanya menunggu.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kalau bukan kami, siapa lagi?


Tanpa banyak berpikir panjang, saya berdiri, mengambil karton bekas dan spanduk seadanya. Saya tulis kata-kata penggalangan dana dengan tangan sendiri.

Tidak ada desain bagus.

Tidak ada perlengkapan profesional.

Semua sederhana.

Apa adanya.

Tidak ada teman yang membantu memegang.

Tidak ada yang menemani.

Tetapi dalam hati saya sudah berkata:

“Harus jalan.”


Saya melangkah keluar menuju lampu merah.

Di sepanjang perjalanan, banyak pikiran datang menghantui.

Bagaimana kalau orang menertawakan saya?

Bagaimana kalau tidak ada yang peduli?

Bagaimana kalau saya gagal?

Semua pertanyaan itu muncul silih berganti.


Namun saya sadar bahwa perjuangan memang selalu menguji keberanian seseorang.

Kalau kita hanya bergerak saat semuanya nyaman, itu bukan perjuangan.

Sesampainya di lampu merah, saya berdiri memperhatikan kendaraan yang hilir mudik. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Saat itulah saya sadar ada masalah lain.

Tidak ada yang membantu memegang spanduk.

Saya sendirian.

Saya sempat bingung beberapa saat.

Tetapi keadaan mengajarkan kita untuk kreatif.

Akhirnya saya mencari tiang di pinggir jalan, lalu mengikat spanduk itu dengan tali seadanya. Tidak terlalu rapi, tidak terlalu bagus, tetapi cukup agar orang bisa membaca tulisan penggalangan dana itu.


Setelah semuanya siap, saya mulai berjalan di antara kendaraan-kendaraan yang berhenti.

Saya mengetuk kaca mobil.

Saya menunduk hormat.

Saya menjelaskan maksud penggalangan dana kami.

Saya berjalan dengan penuh percaya diri.


Padahal di dalam hati, saya sedang melawan rasa malu yang luar biasa.

Ada rasa takut.

Ada rasa ragu.

Ada suara kecil dalam diri yang bertanya:

“Kenapa harus seperti ini?”

Tetapi saya memilih melawannya.


Karena saya tahu, ini bukan untuk kepentingan pribadi.

Ini demi organisasi.

Demi kegiatan bersama.

Demi nama baik kami sebagai mahasiswa Papua di tanah rantau.

Ada orang yang memberi dengan tulus.

Ada yang hanya tersenyum.

Ada yang pura-pura tidak melihat.

Ada yang menolak mentah-mentah.

Semua saya terima dengan lapang hati.


Karena dalam perjuangan, tidak semua orang akan mengerti jalan yang kita tempuh.

Di tengah itu semua, saya terus berkomunikasi dengan teman-teman lewat telepon dan pesan singkat.

Saya memberi tahu mereka:

Saya sudah mulai jalan.”

Dalam hati saya percaya satu hal:

Kalau satu orang memulai, yang lain pasti akan menyusul.

Dan benar.

Perlahan teman-teman mulai bergerak.

Ada yang datang membantu.

Ada yang menyebarkan informasi.

Ada yang mencari titik lain untuk penggalangan.

Semangat itu menular.


Keberanian kecil ternyata bisa menyalakan keberanian bersama.

Saat itulah saya teringat sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya:

O Jawa Jugwi Nogo Tii Wene Ngorek O.”

Bagi sebagian orang mungkin ini hanya rangkaian kata biasa.

Tetapi bagi saya, ini adalah doa perjuangan.


Ia adalah pengingat bahwa hidup di tanah rantau memang tidak mudah.

Ada banyak tantangan.

Ada banyak air mata yang tidak terlihat.

Ada banyak perjuangan yang tidak pernah diceritakan.

Tetapi semua itu adalah bagian dari proses pembentukan diri.

Momen seperti itu jarang saya ceritakan.

Saya simpan dalam diam.

Bukan karena malu.


Tetapi karena saya percaya bahwa suatu hari cerita ini akan menjadi pelajaran besar.

Mungkin suatu hari nanti, ketika saya duduk bersama anak dan cucu saya, saya akan berkata:


“Dulu, waktu saya hidup di rantau, saya pernah berdiri di lampu merah untuk menggalang dana. Saya pernah jadi pengamen jalanan. Saya pernah memulung barang bekas. Saya pernah angkat-angkat barang berat. Saya pernah berburu demi bertahan hidup.”


Dan saya akan mengatakan kepada mereka:

“Itulah sekolah kehidupan.”

Semua itu bukan karena saya tidak punya pilihan.

Tetapi karena saya memilih bertahan.

Saya memilih berjuang.

Saya memilih tidak menyerah.

Hidup di tanah rantau memang keras.


Kadang makan ada, kadang tidak.

Kadang uang cukup, kadang sangat terbatas.

Kadang semangat tinggi, kadang hampir runtuh.

Tetapi justru dari situlah karakter dibentuk.

Anak-anak rantau belajar mandiri.

Belajar bertanggung jawab.


Belajar kuat menghadapi tekanan hidup.

Belajar berdiri dengan kaki sendiri.

Semua pengalaman itu adalah ilmu.

Ilmu yang tidak diajarkan di ruang kelas.

Ilmu tentang keberanian.

Ilmu tentang ketekunan.

Ilmu tentang kesabaran.

Ilmu tentang bagaimana tetap percaya diri ketika keadaan sedang tidak berpihak.


Saya menuliskan cerita ini bukan untuk mencari simpati.

Bukan untuk dipuji.

Tetapi supaya siapa pun yang membacanya bisa belajar bahwa hidup adalah tentang proses.

Bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Bahwa apa yang kita jalani hari ini, suatu saat akan menjadi cerita yang membentuk masa depan kita.


Anak-anak rantau mungkin terlihat biasa saja.

Sederhana.

Diam.

Tidak banyak bicara.

Tetapi di balik itu, ada perjuangan besar yang sedang mereka jalani.

Mereka tidak lupa asal-usul mereka.

Tidak lupa kampung halaman.

Tidak lupa nilai-nilai yang diajarkan keluarga.

Namun pada saat yang sama, mereka sedang belajar menghadapi dunia yang lebih luas.

Berpikir lokal.

Bertindak global.


Dan pada akhirnya, semua proses ini sedang membentuk manusia-manusia kuat.

Manusia yang tidak mudah menyerah.

Manusia yang tahu arti kerja keras.

Manusia yang menghargai setiap proses kehidupan.

Karena sesungguhnya, sukses bukan hanya tentang hasil akhir.

Sukses adalah tentang bagaimana kita sampai ke titik itu.

Dan saya bersyukur pernah melewati jalan perjuangan itu.

Sebab justru di bawah lampu merah, di tengah rasa malu, takut, dan lelah, saya belajar arti hidup yang sebenarnya.




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

Advertisement