![]() |
Dokumen Penggalangan dana lampu merah Jl Kaliurang tahun 2022 |
YOGYAKARTA, Ketika kita ingin menyukseskan suatu kegiatan di dalam wadah atau organisasi, yang paling dibutuhkan bukan hanya rencana, tapi usaha dan kerja keras yang nyata. Kadang-kadang orang hanya melihat hasil akhirnya saja acaranya ramai, sukses, semua berjalan lancar. Tapi mereka tidak tahu cerita dibalik itu semua, bagaimana proses, bagaimana perjuangannya, bahkan sampai titik paling rendah yang mungkin tidak semua orang mampu jalani.
Saya masih ingat satu momen di tanah rantau. Waktu itu kami sedang berusaha mengumpulkan dana untuk kegiatan seminar Natal dan tahun Baru. Harapannya besar, semangat juga tinggi, tapi kondisi tidak selalu mendukung. Suatu hari, di tempat tinggal kami di asrama atau kontrakan tidak ada satu orang pun . Semua punya kesibukan masing-masing. Sementara waktu terus berjalan, kegiatan sudah di depan mata, dan kebutuhan harus segera dipenuhi.
Akhirnya, tanpa banyak berpikir, saya mengambil karton dan spanduk seadanya. Tidak ada yang menemani, tidak ada yang membantu memegang. Tapi dalam hati sudah percaya diri: harus jalan. Saya pergi ke lampu merah, berdiri di sana, mencoba mencari cara agar tetap bisa melakukan penggalangan dana. Karena tidak ada orang yang membantu memegang spanduk, saya harus berpikir kreatif. Saya ikat spanduk itu di atas tiang, seadanya saja, yang penting bisa dibaca orang.
Di situ saya mulai “ngamen” atau istilahnya penggalangan dana di jalan. Jalan dengan percaya diri, padahal sebenarnya di dalam hati ada rasa malu, takut, dan ragu. Tapi semua itu saya lawan. Saya terus berjalan, sambil berharap ada orang yang peduli, ada yang mau membantu. Sambil itu juga saya tetap berkomunikasi dengan teman-teman, terima kasih informasi kepada mereka, bahwa saya sudah mulai di jalan. Dalam benak saya, “kalau satu jalan sudah dimulai, yang lain pasti akan menyusul.”
Ada satu ungkapan yang selalu teringat: “O Jawa Jugwi Nogo Tii Wene Ngorek O.” Mungkin bagi orang lain itu hanya kata-kata biasa, tapi bagi saya itu punya makna dalam. Itu seperti pengingat tentang perjuangan, tentang keyakinan, dan tentang perjalanan hidup yang tidak mudah di tanah orang.
Momen seperti itu tidak selalu saya ceritakan ke banyak orang. Lebih baik saya simpan dalam diam. Bukan karena malu, tapi karena saya percaya suatu hari nanti cerita ini akan punya arti yang lebih besar. Mungkin suatu saat, ketika saya sudah punya anak dan cucu, saya bisa duduk bersama mereka dan bercerita: “Dulu, waktu saya di rantau, saya pernah berdiri di lampu merah, saya pernah jadi pengamen, saya pernah memulung, angkat-angkat barang bekas, saya pernah berburu untuk bertahan hidup.”
Semua itu bukan karena saya tidak punya pilihan, tapi karena saya memilih untuk bertahan dan berjuang. Demi menyukseskan kegiatan, baik yang besar maupun kecil, dan demi bertahan hidup di tanah rantau, saya melakukan semuanya. Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah kalau tujuannya baik. Justru dari situlah kita belajar arti kehidupan yang sebenarnya.
Hidup di tanah rantau itu tidak mudah. Makan kadang ada, kadang tidak. Uang terbatas, kebutuhan banyak. Tapi justru dari situlah terbentuknya karakter seseorang. Anak-anak yang hidup di rantau, terutama yang sedang menempuh pendidikan, sudah biasa dengan kondisi seperti itu. Mereka belajar mandiri, belajar kuat, belajar bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.
Semua pengalaman itu, baik yang manis maupun pahit, sebenarnya adalah ilmu. Ilmu yang tidak selalu didapat di dalam kelas. Ilmu tentang bagaimana menghadapi tekanan, bagaimana tetap berdiri ketika tidak ada yang mendukung, bagaimana tetap percaya diri meskipun keadaan tidak berpihak.
Saya ceritakan ini bukan untuk mencari simpati, tapi supaya siapa pun yang mendengar atau membaca bisa belajar. Bahwa dalam hidup, proses itu penting. Pengalaman itu berharga. Dan apa yang kita jalani hari ini, suatu saat akan menjadi cerita yang berarti.
Anak-anak yang hidup di tanah rantau sedang menjalani proses besar dalam hidupnya. Mereka mungkin terlihat biasa saja, sederhana, tapi di dalamnya ada perjuangan yang luar biasa. Mereka tumbuh dengan cara berpikir lokal Tidak lupa asal-usul, tidak lupa nilai-nilai di kampung halaman tapi mereka juga belajar untuk bertindak secara global, menghadapi dunia yang lebih luas.
Pada akhirnya, semua ini membentuk manusia yang kuat. Manusia yang tidak mudah menyerah, yang tahu arti kerja keras, dan yang menghargai setiap proses dalam hidupnya. Karena sukses itu bukan hanya tentang hasil, tapi tentang bagaimana kita sampai ke titik itu.
-- CNT-2026
