![]() |
| Foto Lapangan Bola di Gome |
GOME, 22 Maret 2026 - Di negeri salju abadi, di tanah tinggi yang dijaga gunung-gunung kokoh, kampung halaman selalu punya cerita tidak pernah habis untuk dikenang. Dari sudut kecil di kampung halaman, ada kisah tentang hidup yang berjalan apa adanya, sederhana, tapi penuh makna.
Di tempat ini, dingin bukan sekadar cuaca. Dingin adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir sejak pagi buta, menusuk kulit, menyelimuti lembah, lalu perlahan hilang bersama terbitnya matahari. Namun bagi orang-orang di sini, dingin bukan sesuatu yang harus dilawan. Ia adalah teman lama sudah dikenali sejak kecil.
Pagi di kampung selalu datang dengan suara alam. Kadang terdengar burung-burung kecil bernyanyi dari pepohonan, seolah memberi tanda bahwa hari baru telah dimulai. Kabut turun pelan menutupi bukit dan lembah, seperti selimut putih menyelimuti bumi. Dari celah-celah honai, asap tipis mulai naik ke udara. Itu pertanda api sudah dinyalakan, menghangatkan tubuh sebelum orang-orang keluar memulai aktivitas.
Di dalam honai, suasana hangat terasa akrab. Api menyala di tengah ruangan, dan keluarga duduk mengelilinginya. Anak-anak kecil masih setengah mengantuk, sementara orang tua sudah menyiapkan diri untuk bekerja. Tidak banyak kata-kata yang diucapkan, tapi semua saling paham tugas masing-masing. Begitulah hidup di sini sederhana, tenang, tapi teratur.
Saat matahari mulai menampakkan cahayanya di balik pegunungan, masyarakat mulai bergerak ke kebun. Ada yang membawa noken berisi alat kerja, ada yang memikul hasil kebun dari hari sebelumnya. Tanah di sini memang keras. Tidak semua tanaman bisa tumbuh dengan mudah. Tapi orang-orang kampung sudah belajar dari leluhur mereka bagaimana merawat tanah, membaca musim, dan menanam dengan sabar.
Ubi, sayur-sayuran, dan hasil bumi lainnya menjadi sumber kehidupan utama. Dari kebun itulah mereka bertahan hidup. Tidak ada kemewahan, tidak ada kemudahan seperti di kota-kota besar. Tapi ada rasa syukur yang tumbuh dari setiap hasil panen. Sekecil apa pun hasilnya, selalu cukup untuk dibagikan bersama keluarga.
Yang paling indah dari hidup di negeri ini adalah kebersamaan. Di sini, tidak ada yang benar-benar hidup sendiri. Kalau satu keluarga kesulitan, keluarga lain datang membantu. Kalau ada honai yang rusak diterpa angin, orang-orang kampung akan berkumpul memperbaikinya bersama. Kalau ada yang sakit, semua ikut peduli. Kebersamaan bukan sekadar kebiasaan, tapi cara hidup yang diwariskan turun-temurun.
Namun hidup di bawah bayang-bayang salju abadi tentu tidak selalu mudah. Alam kadang menunjukkan wajah kerasnya. Angin besar datang tiba-tiba, hujan turun deras berjam-jam, kabut tebal menutup pandangan sampai jarak beberapa meter saja sulit terlihat. Saat seperti itu, orang-orang hanya bisa bertahan di dalam honai, menunggu alam kembali tenang.
Di saat-saat seperti itu, doa menjadi kekuatan. Orang-orang percaya bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dihormati. Mereka tidak melihat badai sebagai musuh, melainkan bagian dari kehidupan yang mengajarkan kesabaran.
Menjelang sore, suasana kampung berubah. Setelah seharian bekerja di kebun, orang-orang mulai kembali. Matahari perlahan turun di balik pegunungan Cartenz, mewarnai langit dengan jingga keemasan yang begitu indah. Dingin mulai terasa lebih tajam. Tapi justru di waktu seperti itulah kehidupan sosial mulai terasa hidup.
Di sebuah lapangan sederhana yang hanya berupa tanah rata tanpa rumput rapi, para pemuda dan pemudi mulai berkumpul. Hari itu adalah hari yang dinanti. tempat pertandingan bola voli akan digelar.
Lapangan itu jauh dari kata sempurna. Tiang net dibuat dari kayu seadanya. Tali pengikat kadang longgar. Bola yang dipakai mungkin sudah usang. Tapi semua itu tidak mengurangi semangat mereka sedikit pun.
Satu per satu pemuda datang. Ada yang baru selesai dari kebun dengan kaki penuh lumpur. Ada yang masih memakai seragam sekolah. Ada juga yang datang hanya untuk menonton sambil tertawa bersama teman-teman.
Di lapangan itu, semua menjadi sama. Tidak ada perbedaan status, tidak ada jarak. Semua melebur dalam semangat kebersamaan.
Pertandingan dimulai saat matahari hampir tenggelam. Suara bola dipukul keras memecah dinginnya udara. Langkah kaki berlari di tanah keras. Teriakan sorak penonton terdengar riuh, memantul di antara bukit-bukit.
Setiap poin disambut sorak-sorai. Kalau ada yang salah memukul bola, semua tertawa bersama. Tidak ada ejekan. Tidak ada kemarahan. Semua menjadi bagian dari kebahagiaan sederhana yang hanya bisa dirasakan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Di tengah lapangan berdiri seorang pemuda bernama Yonas. Napasnya terengah-engah, wajahnya penuh peluh meski udara dingin menusuk. Tapi matanya menyala penuh semangat. Baginya, permainan ini lebih dari sekadar hiburan. Ini adalah cara untuk melupakan kerasnya hidup, walau hanya untuk beberapa jam.
Di sisi lapangan, seorang gadis bernama Mery tertawa lepas bersama teman-temannya. Tawanya ringan dan hangat, seperti melawan dinginnya malam yang mulai turun. Tawa itu menyebar, membuat semua orang ikut tersenyum.
Ketika langit mulai gelap, beberapa orang menyalakan api di sekitar lapangan. Cahaya api menari-nari diterpa angin malam, menerangi wajah-wajah penuh semangat. Hangatnya api bercampur dengan hangatnya kebersamaan.
Pertandingan akhirnya selesai tanpa hadiah besar. Tidak ada piala. Tidak ada uang. Tidak ada sorotan kamera. Yang ada hanyalah kepuasan, tawa dan kenangan yang akan dibawa pulang.
Mereka saling berjabat tangan, menepuk bahu satu sama lain, lalu berjanji bertemu lagi esok atau minggu depan untuk bermain bersama.
Malam pun datang sepenuhnya. Kabut turun lebih tebal. Suhu semakin dingin. Satu per satu mereka berjalan pulang menuju honai masing-masing, menembus gelap dengan langkah ringan.
Di balik kerasnya alam, hidup di negeri salju abadi tetap menyimpan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kehangatan itu bukan datang dari matahari, bukan dari api unggun, tapi dari hati manusia-manusia yang memilih tetap tersenyum meski hidup tidak mudah.
Di negeri ini, orang belajar bahwa hidup bukan soal seberapa mudah jalan yang dilewati. Hidup adalah tentang tetap berjalan walau jalan menanjak. Tetap tersenyum walau dingin menusuk. Tetap bersama walau badai datang silih berganti.
Dan di bawah langit Puncak Cartenz yang perlahan gelap, denyut kehidupan itu terus berjalan.
Pelan, sederhana, tapi penuh harapan.
Sebab di tanah yang diselimuti salju abadi ini, manusia belajar satu hal penting
bahwa selama kebersamaan masih ada, tidak ada dingin yang terlalu berat untuk dilalui.
— Tabinihe
