Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi Ruang Refleksi Mahasiswa Tentang Masalah Kemanusiaan di Papua

Warta Tako
0

 


Tangerang, 20 Mei 2016 — Semangat intelektual dan solidaritas antarmahasiswa terlihat dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi yang diselenggarakan bersama mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Tangerang serta perwakilan mahasiswa Papua se-Jadetabek dan HIPMA Lani Tangerang.


Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk membangun kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan kemanusiaan, keadilan sosial dan realitas kehidupan masyarakat Papua yang selama ini jarang dipahami secara utuh oleh kalangan mahasiswa di luar Tanah Papua dan orang Indonesia.


Film Pesta Babi yang diputar dalam kegiatan tersebut menghadirkan gambaran yang kuat tentang sisi kemanusiaan, ketegangan sosial, serta pergulatan hidup yang dialami masyarakat Papua dalam berbagai dimensi. Tayangan ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan media edukasi yang membuka ruang dialog bagi mahasiswa untuk melihat Papua dari perspektif yang lebih mendalam, objektif, dan manusiawi.


Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung dan penuh antusiasme. Mahasiswa dari berbagai latar belakang aktif menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta refleksi kritis mereka terhadap isi film dan realitas sosial yang diangkat di dalamnya.


Dalam kesempatan tersebut, Akianus Wenda, selaku Ketua Umum IMAPA, berperan aktif sebagai narasumber utama sekaligus penanggap diskusi. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, termasuk yang dialami oleh masyarakat Papua.


Menurutnya, film seperti Pesta Babi harus menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami Papua secara lebih jujur, bukan hanya melalui narasi politik yang sering kali parsial, melainkan melalui pengalaman kemanusiaan yang nyata.


“Mahasiswa harus berani melihat kenyataan dengan pikiran terbuka. Papua bukan sekadar isu politik, tetapi tentang manusia, tentang kehidupan, tentang martabat yang harus dihormati bersama,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.


Ia juga menekankan bahwa dialog adalah jalan penting untuk membangun pemahaman antarsesama anak bangsa. Ketika mahasiswa mampu duduk bersama, menonton bersama, berdiskusi bersama, maka sekat-sekat prasangka perlahan dapat dihapuskan.


Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Ketua Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PKIMM) Cabang Kota Tangerang yang dengan baik mengarahkan jalannya forum sehingga suasana tetap kondusif, kritis dan produktif.


Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa kampus harus menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan dan keberanian berpikir kritis. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap realitas sosial, melainkan harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu merawat nilai keadilan, persatuan, dan kemanusiaan.


Keterlibatan mahasiswa Papua se-Jadetabek dan HIPMA Lani Tangerang dalam kegiatan ini juga menjadi simbol penting bahwa persaudaraan antarmahasiswa dapat dibangun melalui ruang-ruang akademik yang sehat. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri dalam diskusi, terutama dalam membagikan pengalaman dan perspektif langsung tentang kehidupan sosial masyarakat Papua.


Banyak peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menyadari bahwa selama ini masih banyak hal tentang Papua yang belum diketahui secara utuh. Diskusi seperti ini dinilai penting untuk menumbuhkan empati dan menghilangkan stigma yang kerap muncul akibat minimnya ruang dialog.


Kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa masih memiliki semangat intelektual untuk berpikir kritis, membangun kesadaran sosial dan memperkuat solidaritas kebangsaan.


Di tengah tantangan zaman yang sering membuat generasi muda larut dalam rutinitas digital dan hiburan instan, forum seperti ini menjadi pengingat bahwa kampus tetap harus menjadi rumah bagi gagasan besar, ruang dialektika, dan tempat lahirnya kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemanusiaan.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang bersama mahasiswa Papua menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk duduk bersama, berdialog, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, damai, dan bermartabat bagi semua.


Ediktor. Tabinihe



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

Advertisement